UMKM binaan Pertamina yang mengikuti pameran Inacraft 2024. Pertamina mencatat 29 UMKM binaan meraih transaksi hingga Rp4,2 miliar pada pameran yang berlangsung pada 28 Februari-3 Maret di Balai Sidang Jakarta (JCC). (ANTARA/HO-Pertamina)

Transaksi Senilai Rp4,2 Miliar Diraih UMKM Binaan Pertamina di Inacraft 2024

Ciremaitoday.com, Jakarta – Sebanyak 29 UMKM binaan PT Pertamina (Persero) meraih transaksi hingga Rp4,2 miliar di pameran International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2024 di Jakarta, 28 Februari-3 Maret. Pertamina menyebut transaksi tersebut melesat 40 persen dari target awal yang sebesar Rp3 miliar.

“Tingginya antusiasme pengunjung pada booth UMKM binaan Pertamina di ajang Inacraft 2024 terbukti dengan total penjualan yang diraih hingga mencapai Rp4,2 miliar selama lima hari pameran berlangsung,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Persero Fadjar Djoko Santoso, Senin (4/3/2024).

Pertamina, kata dia, akan terus berupaya menjadikan UMKM tumbuh semakin pesat setiap tahun. Salah satunya dengan mendorong pelaksanaan pameran nasional khususnya di skala global. 

Upaya itu dilakukan untuk mendukung para pelaku UMKM binaan yang berada di seluruh pelosok Nusantara untuk dapat meningkatkan kualitas produk dan mengekspor produknya ke mancanegara.

Selain kemudahan akses permodalan, Pertamina memiliki program unggulan pembinaan UMKM, di antaranya UMK academy dan pertapreneur aggregator, pelatihan modul e-learning dan offline, sertifikasi usaha, display produk di area publik seperti Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, hibah alat bantu, publikasi, pameran dan penjualan e-commerce.

Pada Inacraft 2024, Pertamina menampilkan banyak UMKM baru tetapi tetap dengan kualitas produk terbaik karena telah melalui proses kurasi yang sangat ketat.

Pertamina mencontohkan Java Kulit Indonesia, UMKM asal Kota Balikpapan, Kalimantan Timur salah satu peserta Inacraft 2024 binaan dengan produk yang sukses menarik perhatian banyak pengunjung meskipun di awal omzetnya kurang dari Rp1 juta.

Gilang, pemilik Java Kulit Indonesia tidak putus asa, melainkan semakin aktif memperhatikan karakteristik pengunjung yang berbeda dari konsumen pada umumnya di Balikpapan.

“Hari pertama saya memberikan diskon untuk produk tertentu, besoknya saya coba jual produk tanpa diskon, tujuannya untuk mengetes minat pasar,” ujar Gilang, seperti dilaporkan Kantor Berita Antara.

Namun strategi tersebut gagal, karena tidak ada pengunjung yang melirik produknya apa lagi belanja. Alhasil omzet di hari kedua pameran anjlok dari hari sebelumnya, yaitu dari Rp7 juta menjadi Rp750.000 saja.

Menurut Gilang, perbedaan selera fesyen antara konsumen Balikpapan dan Jakarta menjadi salah satu kendala yang dia hadapi. Oleh karena itu, produk yang kurang diminati dan old school, dia jual dengan harga modal agar produksi produk tetap bisa berputar.

Kemudian, Gilang mulai menjajal konsep “penasaran”, di mana pengunjung diberikan informasi bahwa Balikpapan memiliki produk kulit asli yang berkualitas, serta produknya merupakan salah satu unggulan di kota yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Strategi tersebut berhasil, pengunjung banyak berdatangan dan berbelanja sehingga omzet pun meningkat berkali lipat, hingga ratusan juta rupiah. Bahkan Gilang mendapatkan penawaran dari pembeli asal Singapura.

Untuk produk ikat pinggang kulit, Warga Negara Indonesia yang berdomisili di Malaysia ingin agar produknya dijual di House of Indonesia. Pembeli dari Amerika Serikat bahkan sudah minta penawaran untuk produk kaos dan kemeja kulit.

Untuk lebih menarik minat pengunjung, Gilang mengatakan bahwa Java Kulit merupakan produk Balikpapan yang berdekatan dengan IKN.

“Kami juga akan memberikan special price apabila membeli langsung di galeri Java Kulit di Balikpapan. Sementara untuk penawaran dari pembeli akan kami tindak lanjut setelah pameran usai,” ucapnya.

Hal serupa juga dialami oleh Menday Craft, UMKM Rumah BUMN Serdang Bedagai Sumut dengan produk sandal slipper pandan dan tikar pandan laut sudah ludes terjual sejak hari keempat, sebelumnya sudah sempat melakukan penambahan stok pameran hingga tiga kali, namun produknya kembali habis diborong.

Begitu juga dengan UMKM Lady’s Fashion and Creativity, UMKM binaan Rumah BUMN Aceh Tamiang ini menjadi incaran pengunjung pameran, khususnya produk rok lilit dengan bordiran khas Aceh serta tas yang juga berhiaskan bordir. Hingga hari terakhir pameran, tercatat 100 pcs tas bordir siap dikirim kepada pelanggan baru. (*)

Array
header-ads

Berita Lainnya