Caption: Ketua Partai Buruh Exco Cirebon, Moh Mahcbub. Foto: Istimewa

Pasien Kelas Tiga Kaget Tagihan Persalinan Normal Capai Rp17 Juta di RSUD Arjawinangun Cirebon

Ciremaitoday.com, Cirebon-Seorang pasien yang menjalani persalinan normal di RSUD Arjawinangun (Awn), Kabupaten Cirebon dikagetkan dengan biaya administrasi yang mencapai Rp17 juta. Pasien tersebut masuk ke kelas tiga di rumah sakit tersebut tanpa mendapat perawatan khusus.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Partai Buruh Exco Cirebon, Moh Mahcbub, lewat sebuah video pernyataan yang diunggah di berbagai platform media sosial belum lama ini.

“Pasien tersebut hanya melahirkan secara normal, tanpa ada layanan atau perawatan khusus, namun biaya yang dikenakan mencapai Rp17 juta. Ini sangat mengagetkan,” ujar Mahcbub, seperti dikutip dari video tersebut pada Senin (24/6).

Machbub menceritakan kronologi kejadian bermula pada 10 Juni 2024, sekitar pukul 22.00 WIB, ketika pasien dirujuk dari Puskesmas Pembantu (Poned) ke RSUD Arjawinangun. Pasien tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, baik mandiri maupun PBI ini harus mengurus administrasi sendiri dalam waktu tiga hari.

Karena, kuota UHC di Kabupaten Cirebon telah habis, akhirnya pasien terpaksa untuk membayar secara pribadi.

Pasien melahirkan secara normal pada 11 Juni 2024, dan pada 13 Juni 2024, ibu dan bayi diperbolehkan pulang. Namun, pihak rumah sakit memberikan rincian biaya yang sangat tinggi kepada keluarga pasien.

“Kasir memberikan rincian biaya sebesar Rp17.000.000, yang terdiri dari biaya bayi Rp3.597.127, biaya ibu Rp12.094.230, dan biaya penanganan IGD Rp1.666.804,” jelas Mahcbub.

Keluarga pasien terkejut dengan biaya tersebut dan meminta rincian lebih lanjut kepada kasir. Namun, permintaan mereka untuk mendapatkan rincian tagihan resmi ditolak, dan hanya diberikan rincian biaya melalui tulisan tangan.

Tidak puas dengan jawaban kasir, keluarga pasien kemudian berkomunikasi dengan Mahcbub yang kemudian mendampingi mereka untuk klarifikasi lebih lanjut. Akhirnya, pihak rumah sakit memberikan diskon, menurunkan biaya dari Rp17 juta menjadi sekitar Rp13 juta.

“Kami tetap merasa curiga dan ingin mengetahui rincian biaya sebenarnya. Setelah malam itu, pihak rumah sakit mengizinkan pasien untuk pulang dan meminta keluarga menandatangani perjanjian pembayaran sebesar Rp13 juta. Namun, rincian biaya yang diberikan melalui foto layar monitor sistem informasi rumah sakit tidak jelas, hanya menunjukkan angka sekitar Rp8 juta,” tandasnya.

Kasus ini menjadi perhatian serius dan menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk selalu waspada dan melakukan cross-check secara detail terhadap biaya rumah sakit. (Joni)

Array
header-ads

Berita Lainnya