Caption: Deputi Direktur KIAT, Benjamin Smith, saat menghadiri peresmian lokakarya penyusunan visi strategis pengelolaan air limbah tersebut di Hotel Luxton, pada Rabu (19/6). Foto: Tarjoni/Ciremaitoday 

Kota Cirebon Dipilih untuk Program SIIP: Optimalisasi Air Limbah Domestik

Ciremaitoday.com, Cirebon-Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon terpilih menjadi salah satu kota percontohan pengelola air limbah domestik. Penjabat (Pj) Wali Kota Cirebon, Agus Mulyadi, meresmikan lokakarya penyusunan visi strategis pengelolaan air limbah tersebut di Hotel Luxton, pada Rabu (19/6).

Hal itu sebagai bagian dari program Sanitation Infrastructure and Institutional Support (SIIP) dari Kemitraan Indonesia-Australia untuk Infrastruktur (KIAT).

“Lokakarya ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi masyarakat, dalam program SIIP,” ujar Agus Mulyadi.

“Ini adalah langkah penting untuk mencapai sanitasi yang layak dan aman di Kota Cirebon,” lanjutnya.

Agus Mulyadi menjelaskan bahwa Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) sangat penting untuk mengatasi pencemaran air seiring pertumbuhan penduduk.

“Keberadaan sistem ini dapat meningkatkan akses layanan air limbah, memperbaiki kualitas lingkungan, dan menyediakan sumber alternatif air bersih,” katanya.

Dalam lokakarya ini, peserta diajak untuk berdiskusi dan belajar dari para narasumber mengenai teknis pengolahan SPALD.

“Saya berharap kita bisa mempertajam berbagai hal teknis dalam pengelolaan air limbah yang telah ada,” katanya.

Sejarah pengelolaan air limbah di Cirebon dimulai pada tahun 1996 dengan bantuan dari Pemerintah Swiss melalui Program Cirebon Urban Development (CUDP).

“Ini menjadi modal awal untuk melanjutkan dokumen perencanaan, pendanaan, dan kelembagaan,” jelas Agus Mulyadi.

Deputi Direktur KIAT, Benjamin Smith, mengatakan, Kota Cirebon menjadi salah satu dari lima kota percontohan di Indonesia dalam program ini, bersama Banda Aceh, Padang, dan Kabupaten Gorontalo.

Ia menekankan pentingnya pengelolaan air limbah domestik sebagai prioritas nasional karena dampaknya yang besar terhadap kesehatan dan lingkungan masyarakat.

“Semoga hasil kolaborasi ini bisa menjadi percontohan bagi daerah lain yang menghadapi masalah serupa dengan Kota Cirebon,” katanya. (*)

Array
header-ads

Berita Lainnya