Free Fire (Dafunda)

Main Free Fire, Bagaimana Hukumnya Dalam Islam?

Ciremaitoday.com, Indramayu – Main Free Fire tak memungkiri adalah salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh rata-rata anak-anak atau gamer-gamer saat ini.

Tak heran. Pasalnya selain merupakan salah satu game online yang masih sangat top, main free fire tak memungkiri adalah salah satu kegiatan yang bisa mengisi waktu kosong atau waktu menunggu yang sedang kita hadapai.

Terlebih di saat bulan puasa ini, memainkan game ini tentunya bisa membuat waktu menunggu berbuka puasa menjadi tidak terasa. Walau demikian, kini timbul pertanyaan: Bagaimanakah kira-kira pandangan dan hukum memainkan game ini dalam agama Islam?

Main Free Fire Dalam Islam

 

Melansir dari berbagai sumber, terdapat 3 pandangan berbeda terkait hal ini. Oleh karenanya, marilah kita bahas saja satu per satu oke?

1. Majelis Ulama Indonenia (MUI)

MUI memiliki rencana untuk mengeluarkan fatwa tentang hukum bermain game Free Fire.

Namun, hingga saat ini, belum ada riset yang memastikan status hukumnya. Beberapa alasan yang mendasari perdebatan ini antara lain:

Kekerasan: Game Free Fire mengandung tindakan kekerasan yang dilarang oleh agama Islam.

Adegan Membunuh: Beberapa adegan dalam game melibatkan pembunuhan, yang juga bertentangan dengan ajaran Islam.

Perilaku Toxic: Game seringkali memunculkan perilaku kasar dan kotor, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.


2. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh

MPU Aceh secara resmi mengeluarkan fatwa bahwa game Free Fire haram untuk dimainkan.

Keputusan ini berlaku di wilayah Aceh sejak Juni 2019. Salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah viralnya video seorang anak yang melakukan shalat dengan gerakan push-up ala gaya Free Fire.

3. Beberapa Ulama Lain

Beberapa ulama berpendapat bahwa bermain game boleh, selama tidak menghalangi kewajiban agama seperti menunaikan shalat dan berbakti kepada orang tua.

Nah itulah tadi 3 pandangan berbeda terkait hukum bermain Free Fire. Dikarenakan adanya perbedaan ini, kami hanya bisa mengakhiri pembahasan ini dengan menyarankan ke anda untuk menelaah dan menimang ketiga perbedaaannya ini.

Sehingga nantinya anda bisa memberikan keputusan yang terbaik bagi anak, keponakan, atau bahkan anda sendiri terhadap masalah ini. Pertimbangkanlah dengan bijak ya!

Array
header-ads

Berita Lainnya